TORAJATIMES.com

Objektif & Aktual

Bupati Toraja Utara Resmikan Jembatan Ne’ Gandeng, Jembatan Ini Gunakan Struktur Pondasi Sumuran

Bupati Toraja Utara Resmikan Jembatan Ne' Gandeng, Jembatan Ini Gunakan Struktur Pondasi Sumuran. FOTO: torajatimea.com

TORAJA UTARA, TORAJA TIMES.com | Proyek Pembangunan Jembatan Ne’ Gandeng di Malakiri, Lembang Palangi, Kecamatan Balusu, Kabupaten Toraja Utara telah rampung, dan pagi tadi, senin (26/1/2026) diresmikan oleh Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong di dampingi Wakil Bupati, Sekda Toraja Utara, Kepala BPBD Toraja Utara dan warga setempat.

Foto Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong berikan Keterangan Pers ke awak media. 

Proyek Pembangunan Jembatan Ne’ Gandeng di Malakiri, Lembang Palangi yang di rencanakan dengan menggunakan struktur pondasi sumuran. Jembatan ini direncanakan dengan kokoh karena jarak bentangan 50 meter dan lebar 7 meter, sehingga dapat memikul beban kendaraan lebih dari 60 ton.

Seperti diketahui bahwa jenis pondasi sumuran termasuk jenis pondasi dalam yang biasanya digunakan pada konstruksi bangunan yang dilakukan ke arah vertikal. Oleh sebab itu, jenis pondasi yang satu ini sangat cocok dijadikan pilihan untuk gedung atau bangunan lain seperti jembatan yang bentangan panjang yang dibangun di kawasan pinggiran bukit, pinggran sungai maupun tanah berbatu.

Hal ini karena detail pondasi sumuran yang efektif memiliki fungsi untuk memperkokoh tanah bangunan. Sehingga mampu menahan tekanan tanah yang rentan terhadap longsor. Di samping itu, jenis pondasi ini juga berfungsi untuk menjaga dan menopang beban bangunan agar bangunan tetap stabil.

Kelebihan lainnya dari jenis pondasi yang satu ini adalah bisa diaplikasikan pada tanah yang labil, seperti tanah bekas timbunan sampah hingga lokasi tanah yang berlumpur. Selain itu, pondasi bangunan yang satu ini juga sangat mudah diadaptasikan pada berbagai jenis tanah yang berada di dalam air.

Tentunya kita semua tahu bahwa tanah yang berada di dalam air mempunyai susunan struktur yang berbeda dengan tanah kering. Hal itulah yang terkadang menjadi penghalang untuk membangun sebuah pondasi.

Seperti diberitakan sebelumnya, jembatan lama Ne’ Gandeng mengalami penurunan pada tiang tengah, sehingga pemerintah melakukan pembangunan baru dengan lebar 7 meter dengan panjang bentangan 50 meter.

Pembangunan Jembatan Ne’ Gandeng di Malakiri, Lembang Palangi, Kecamatan Balusu Kabupaten Toraja Utara merupakan jembatan yang konstruksinya sangat kokoh dengan menggunakan pondasi sumuran sehingga dapat digunakan puluhan tahun bahkan ratusan tahun.

‎Untuk dikatahui bahwa jembatan yang merupakan akses perekonomian dan penghubung antar Kecamatan Balusu dan Sarambu Nanggala dibangun dengan panjang 50 meter dan lebar 7 meter dikerjakan selama 6 bulan dengan dana APBD Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp12.300.634.000,-.

‎Bupati Toraja Utara, Fredeik Victor Palimbong usai meresmikan jembatan Ne’ Gandeng menyampaikan, bahwa pembangunan jembatan ini salah satu prioritas pembangunan di tahun 2025, mengingat jembatan ini sangat vital yang menghubungkan antar kecamatan dan desa.

Disamping akses perekonomian dan areal pertanian juga merupakan akses wisata menuju ke objek Ne’ Gandeng,” jelasnya.

‎Bupati juga menyampaikan jika jembatan ini akan mempermudah mobilitas dan perekonomian masyarakat daerah Dataran. ‎Oleh karenanya Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong meminta untuk bersama-sama merawat jembatan ini sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu lama.

‎Disampaikan juga oleh Bupati, saat ini banyak jembatan yang rusak dan jalan yang rusak di wilayah Kabupaten Toraja Utara. Tapi karena keterbatasan anggaran maka Pemkab memilih dan mendahulukan untuk melakukan perbaikan jembatan.

“Tahun 2025 kita mengoptimalkan perbaikan jembatan. Kalau jalannya bagus tapi tidak ada jembatan maka akan sia-sia, akses akan terputus. Di tahun 2026 ini, pemerintah Kabupaten Toraja Utara mengusulkan beberapa jembatan ke kementerian PU, yakni jembatan Buntupepasan, Jembatan Rantebua, Jembatan Buntao’ dan jembatan Sanggalangi’, Imbuhnya.

Bupati berharap jembatan Ne’ Gandeng dimanfaatkan dengan baik, bukan untuk kontra produktif namun jembatan dapat digunakan untuk rekreasi dan jangan dijadikan tempat nongkrong untuk memacetkan lalu lintas.

‎Frederik Victor Palimbong juga menyampaikan bahwa Jembatan Ne’ Gandeng salah satu jembatan yang paling terbaik dari sekian jembatan yang sudah dibangun sebelumnya.(*)

Penulis : Eno
Editor  : Redaksi/Rahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini