Frans Karangan, Komandan Legendaris Salah Satu Pejuang Toraja
TORAJA UTARA, TORAJA TIMES.com | Nama Frans Karangan mungkin tidak begitu populer di tanah air. Namun di Toraja, nama ini sangat melegenda, terutama di kalangan generasi kelahiran 1950-an. Mengapa namanya sangat melekat di hati masyarakat Toraja ? Jawabannya ada dalam buku, ‘Komandan Frans Karangan Dalam Gejolak Sejarah’ karya Sili Suli, penulis buku asal Makassar.
Sebenarnya sudah ada beberapa buku yang bercerita tentang kiprah dan perjuangan Frans Karangan. Tetapi hanya sekilas. Itupun tak lebih dari sebuah sisipan cerita dimana namanya hanya disebut beberapa kali saja.
Buku ini boleh dikata merupakan buku pertama yang bercerita banyak hal tentang sosok Frans Karangan. Sebuah biografi beraroma histografi karena mengulas kiprah Frans Karangan dalam beberapa momen perjuangan bersejarah, khususnya saat menjabat sebagai komandan pasukan.
Frans Karangan pertama kali menjadi komandan pasukan saat aktif di Seinendan, sebuah organisasi para militer bentukan pasukan pendudukan Jepang. Kemudian terlibat aktif dalam perjuangan membela kemerdekaan RI di Makassar dan menjadi komandan beberapa organisasi laskar pejuang, seperti LAPRIS, Mobile Brigade Ratulangi (MBR) dan Laskar Harimau Indonesia Bamba Puang.
Sebagai seorang komandan laskar pejuang, Frans Karangan pernah ambil bagian membantu Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) saat melawan pemberontakan Andi Azis tahun 1950 di Makassar.
Setelah itu jabatan komandan disandang Frans Karangan ketika bergabung dengan Andi Sose’ yang saat itu merupakan salah seorang kepercayaan Kahar Muzakkar. Frans Karangan masuk hutan bersama Andi Sose’ dan menjadi gerombolan pengikut Kahar Muzakkar.
Gerombolan ini merupakan barisan sakit hati yang kecewa terhadap kepemimpinan Panglima Alex Kawilarang yang dianggap tidak menghargai keberadaan laskar-laskar pejuang yang telah bergabung dalam ‘wadah’ KGSS. Di awal perjuangannya, gerombolan ini berjuang tanpa membawa ideologi agama. Frans Karangan tetap loyal mengikuti gerombolan ini hingga dilantik menjadi anggota Corps Tjadangan Nasional (CTN) di Batalyon Wolter Monginsidi.
Namun belakangan hari, ketika Kahar Muzakkar mulai bersinergi dengan pentolan DI/TII Kartosuwiryo, Andi Sose’ dengan cepat berubah haluan dan bersedia bergabung dengan APRI (pada tanggal 17 Agustus 1950, APRIS berubah menjadi APRI). Batalyon CTN Wolter Monginsidi yang dipimpin Andi Sose’ kemudian resmi dilantik menjadi APRI pada tahun 1952 di Makale menjadi Batalyon Infanteri 720, dimana Frans Karangan menjadi Komandan Kompi II. Dari jabatan inilah cikal bakal namanya mulai melegenda.
Setahun menjadi komandan kompi, Frans Karangan tetap loyal kepada pimpinan kesatuannya. Tetapi setelah melihat ulah pimpinannya yang sudah jauh melenceng dan menimbulkan keluhan dari berbagai pihak, Frans Karangan tak bisa lagi berdiam diri menjadi ‘anak buah yang manis’ dan patuh kepada pimpinannya.
Dia memilih untuk melawan komandan batalyonnya pada bulan April 1953. Sebuah sikap dan tindakan yang sangat riskan. Maka meletuslah Peristiwa Makale 1953. Sebuah peristiwa yang membuat Andi Sose’ dan kesatuannya harus hengkang dari Tana Toraja dan dipindahkan ke Pompanua, Bone.
Peristiwa itu membuat nama Frans Karangan melambung. Apalagi karirnya tetap aman dan dia tidak mendapatkan sanksi dari Panglima Teritorium VII Wirabuana yang saat itu dijabat oleh Kol. J.F. Warrouw. Dampak dari peristiwa itu, Frans Karangan dari kompi yang dipimpinnya harus terpisah dari induk kesatuannya dan kemudian dipindahkan ke Pare-Pare pada bulan September 1953 menjadi Kompi Frans.
Kompi ini selama lebih dari satu tahun tidak berada di bawah komando batalyon manapun dan terkesan istimewa. Kompi Frans kemudian ditugaskan untuk membantu Resimen Infanteri 24 yang dipimpin H.V. Worang untuk menumpas pemberontakan DI/TII di daerah Belopa hingga ke Masamba.
Dari Pare-Pare, Kompi Frans dipindahkan ke Palu pada tahun 1955 dengan tugas utama menghambat rembesan DI/TII ke Sulawesi Tengah dan memberantas penyelundupan kopra. Frans Karangan melakukan tugasnya dengan baik, khususnya dalam membendung perlawanan DI/TII. Tetapi dalam memberantas penyelundupan kopra, Kompi Frans cukup ‘kewalahan’, terutama setelah kompi yang dipimpinnya dijadikan Batalyon R.
Untuk menghidupkan anak buahnya dan keluarga anak buahnya yang demikian besar, Frans Karangan ‘terpaksa’ mencari pemasukan tambahan. Uang yang mereka terima dari negara jauh tak cukup untuk mendukung operasional Batalyon R. Akhirnya, Frans Karangan ikut larut dalam ‘aroma kopra’.
Untungnya, Frans Karangan bukan tipe perwira APRI yang suka makan sendiri. Hasil selundupan kopra dinikmati oleh hampir semua anak buahnya. Bahkan beberapa petinggi di Jakarta juga menerima cipratannya. Itulah sebabnya Frans Karangan dianggap sebagai seorang komandan yang baik hati dan suka membantu.
Tak hanya membantu anak buahnya. Frans Karangan juga membantu tokoh-tokoh masyarakat Toraja yang meminta bantuannya. Sepucuk surat yang tiba dari Toraja pada tahun 1958, membuat hatinya tergerak untuk mengirim beberapa anak buahnya untuk berangkat ke Toraja dengan alasan cuti.
Mereka dibekali senjata lengkap dan peluru dengan perintah siap untuk bertempur. Ternyata kehadiran satu peleton pasukan Batalyon R di Tana Toraja pada bulan April hingga Agustus 1958 mampu menjadi bagian penting dari perlawanan masyarakat Toraja terhadap kehadiran pasukan Resimen Infanteri 23 yang datang dengan tujuan untuk menumpas simpatisan Permesta. Perlawanan ini oleh sebagian masyarakat Toraja dianggap sebagai bentuk reinkarnasi dari semangat topada tindo.
Pada bab-bab selanjutnya, diceritakan tentang sepak terjang Frans Karangan dan kesatuannya saat terlibat dalam operasi penumpasan Permesta di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara dari tahun 1958 hingga tahun 1960. Kemudian operasi penumpasan DI/TII di Masamba, Malili dan Mangkutana pada tahun 1960 hingga tahun 1962.
Tercatat bahwa dalam seluruh operasi yang ditugaskan kepada Frans Karangan dan anak buahnya, dilakukan dengan baik. Bahkan Batalyon 758 yang dipimpinnya termasuk kesatuan APRI yang berhasil mendesak kekuatan DI/TII mundur ke Sulawesi Tenggara.
Itulah sebabnya, Panglima M. Jusuf menjadikan Batalyon 758 menjadi Batalyon Raider pertama di Sulawesi Selatan karena tidak pernah terkooptasi dengan DI/TII. Secara implisit Panglima Jusuf mengakui bahwa Frans Karangan adalah sosok prajurit yang senantiasa setia dan loyal kepada NKRI.
“Buku yang diluncurkan di Jakarta pada tanggal 28 Mei 2021 ini, sangat layak menjadi referensi sejarah yang akurat karena ditulis dengan dukungan arsip yang cukup lengkap dan literatur yang cukup banyak,” ujar Sili Suli.
Sementara itu sang penulis buku ini, Sili Suli mengatakan bahwa setidaknya buku ini bisa menjadi pembanding yang tepat terhadap setiap cerita-cerita lisan tentang Frans Karangan yang selama ini mengalir bebas tanpa catatan kaki yang jelas. “Penulis Sili Suli menyampaikan bahwa proses buku ini memakan waktu hampir dua tahun untuk menuntaskan buku ini, pungkasnya.(*)
Penulis : Eno
Editor : Redaksi/Rahmad

Tinggalkan Balasan