Sejarah Agama di Jepang dari Zaman Kuno hingga Kini

TORAJATIMES.COM – Jepang adalah negara dengan warisan budaya yang kaya dan beragam, termasuk dalam hal keagamaan. Dari zaman kuno hingga era modern, perkembangan agama di Jepang telah mengalami berbagai transformasi. Artikel ini akan mengulas secara mendetail tentang sejarah agama di Jepang, mulai dari kepercayaan awal hingga agama yang dominan saat ini.

Kepercayaan Awal di Jepang

Shinto: Agama Asli Jepang

Shinto adalah agama asli Jepang yang sangat berakar dalam budaya dan tradisi masyarakat Jepang. Kata “Shinto” sendiri berarti “Jalan Para Dewa” dan mencerminkan keyakinan terhadap roh-roh atau kami yang diyakini menghuni segala sesuatu di alam semesta, termasuk gunung, sungai, pohon, dan bahkan batu. Upacara Shinto sering kali dilakukan di kuil-kuil yang tersebar di seluruh Jepang, dengan ritual yang bertujuan untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia dan kami.

Pengaruh Cina dan Korea

Pada abad ke-6, pengaruh dari Cina dan Korea mulai masuk ke Jepang, membawa serta ajaran Konfusianisme dan Taoisme. Meskipun kedua ajaran ini tidak pernah menjadi agama dominan, mereka memberikan dampak signifikan terhadap filosofi, etika, dan sistem pemerintahan di Jepang. Konfusianisme, misalnya, menekankan pentingnya tata krama, kesetiaan, dan hierarki sosial, yang kemudian diadopsi dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Jepang.

Masuknya Buddhisme ke Jepang

Perkenalan Buddhisme

Buddhisme diperkenalkan ke Jepang pada abad ke-6 melalui Korea, ketika raja kerajaan Baekje mengirim patung Buddha dan beberapa sutra kepada Kaisar Jepang. Buddhisme awalnya diterima dengan campuran antusiasme dan skeptisisme, namun seiring waktu, ia mulai menyebar dan diterima luas di kalangan bangsawan dan rakyat biasa.

Pengaruh Dinasti Tang

Pada abad ke-7 hingga 9, Jepang mulai mengirim delegasi ke Cina untuk mempelajari lebih lanjut tentang Buddhisme di bawah Dinasti Tang. Ini membawa pengaruh besar pada praktik keagamaan dan pembangunan arsitektur Buddhis di Jepang. Kuil-kuil besar seperti Horyu-ji dan Todai-ji dibangun selama periode ini, mencerminkan kedalaman dan kekayaan ajaran Buddhisme yang diterima di Jepang.

Sekolah-Sekolah Buddhisme

Buddhisme di Jepang berkembang menjadi berbagai sekolah atau sekte, termasuk Zen, Tendai, dan Shingon. Setiap sekolah memiliki karakteristik dan ajaran yang berbeda. Zen Buddhisme, misalnya, menekankan meditasi dan kesadaran langsung, sedangkan Shingon Buddhisme lebih berfokus pada ritus-ritus esoterik dan mantra-mantra.

Pengaruh Kristen di Jepang

Kedatangan Misionaris

Agama Kristen pertama kali diperkenalkan di Jepang oleh misionaris Jesuit, termasuk Santo Fransiskus Xaverius, pada abad ke-16. Misionaris ini berhasil mengonversi sejumlah besar penduduk Jepang, termasuk beberapa daimyo (penguasa feodal). Namun, keberhasilan ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemerintah Jepang yang mulai melihat Kristen sebagai ancaman terhadap stabilitas politik dan budaya.

Penindasan dan Larangan

Pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, pemerintah Tokugawa mulai memberlakukan larangan keras terhadap agama Kristen. Misionaris diusir, dan orang-orang yang mempraktikkan agama Kristen dianiaya. Pada akhirnya, agama Kristen terpaksa beroperasi secara rahasia selama beberapa abad hingga era Meiji ketika larangan terhadap agama Kristen dicabut.

Era Meiji dan Kebangkitan Agama Baru

Modernisasi dan Sekularisasi

Era Meiji (1868-1912) membawa perubahan besar dalam masyarakat Jepang, termasuk dalam hal agama. Pemerintah Meiji mendukung sekularisasi dan modernisasi, serta memperkenalkan kebebasan beragama. Shinto diresmikan sebagai agama negara, namun dalam bentuk yang telah dipolitisasi dan dikontrol oleh negara.

Lahirnya Agama-Agama Baru

Selama periode ini, banyak agama baru muncul, sering disebut sebagai Shinshukyo. Agama-agama ini menggabungkan unsur-unsur Shinto, Buddhisme, dan kadang-kadang Kristen, serta ajaran baru yang berfokus pada kebahagiaan individu dan harmoni sosial. Contoh dari agama baru ini termasuk Tenrikyo dan Seicho-no-Ie.

Agama di Jepang Kontemporer

Agama Mayoritas dan Praktik Keagamaan

Saat ini, mayoritas penduduk Jepang mengidentifikasi diri mereka sebagai pengikut Shinto dan Buddhisme, sering kali secara bersamaan. Praktik keagamaan di Jepang cenderung bersifat sinkretis dan pragmatis, dengan banyak orang yang menghadiri upacara Shinto untuk peristiwa penting dalam kehidupan, seperti kelahiran dan pernikahan, serta mengikuti ritual Buddhis saat kematian.

Peran Agama dalam Kehidupan Modern

Agama di Jepang juga memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari dan perayaan tahunan. Festival-festival seperti Matsuri adalah contoh nyata dari bagaimana tradisi keagamaan terus hidup dan berkembang dalam konteks modern. Selain itu, kuil-kuil dan tempat suci masih menjadi tempat penting untuk berdoa dan bermeditasi.

Kesimpulan

Sejarah agama di Jepang adalah cermin dari dinamika budaya dan sosial yang kompleks. Dari kepercayaan awal yang menghormati alam hingga penerimaan dan adaptasi terhadap agama-agama baru, Jepang menunjukkan kemampuan luar biasa untuk menggabungkan dan menyelaraskan berbagai tradisi keagamaan. Pemahaman tentang sejarah agama di Jepang tidak hanya memperkaya pengetahuan kita tentang negara ini, tetapi juga memberikan wawasan tentang bagaimana agama dapat berperan dalam membentuk identitas nasional dan kehidupan sehari-hari. (*/dirman)

Sumber artikel :